Rambut emasnya terkibas. Mengalunlah tangisan gitar Andalucia. Sepatah dua patah kata asing sontak perdana mampir di telinga. Namun, tawanya sungguh akrab. "Apa aku pernah mengenalmu?". "Mungkin.". Dia berkata begitu hanya untuk menghiburku yang terlalu berharap akan dramatisasi dari pertemuan kami. "Ya, mungkin.", bisikku.
Dia datang dari Barat dan aku dari Timur. Bertemu kami di titik tengah bumi. Setidaknya, kami berkhayal begitu. "Aku mendengarmu bercerita soal Madrid dalam bahasa Inggris, tadi.", terangnya. "Ya, kapan-kapan mungkin aku akan bercerita dalam bahasa Indonesia agar kamu tidak bisa menguping.", kelakarku.
Dia membawa-bawa sebuah buku, aku tersenyum melihat judulnya. Dia terkesima aku pintar baca. Sedikit tersinggung, aku mengungkit sejarah kelam yang menjembatani kampung halaman kami. Dia meminta maaf dengan nada lucu. Aku jadi tidak enak sendiri. Kemudian, kami larut dalam pertukaran kata dalam bahasa yang bukan bahasa ibu kami berdua.
Kami menunggu angin menutup kelopak. Mata kami tidak ingin mengerjap. Malam itu, angin memilih bungkam. Teras penginapan kami sepi dari hembusannya. Hanya ada suara kami yang lamat-lamat dan kepulan asap-asap kecil dari rokok yang sedari tadi tak henti-henti tersulut.
Sesekali kami menengok kehidupan di bawah. Kosong. Ada sesuatu dari kota ini yang membuat orang-orang memilih untuk diam, merenung, meringkuk di kamar sembari mengipas-ngipas. Musim panas kali ini cukup membuat mereka kewalahan. Meski kesenangan membikin kulit mereka legam berkilauan. Aku? Pasrah menghitam dan kepanasan selama masih bisa menyusuri lorong-lorong sempit nan cantik di kota tua Cordoba. Ya, walaupun sempat juga rindu hujan.
Lepas bernostalgia akan basahnya rumput dan lembabnya udara di Indonesia, kutengok dia diam-diam, rambut emasnya semakin berkilat di temaram malam. "Inikah perasaan bangsaku berabad, berdekade lalu? Takjub sekaligus takut?", gumamku dalam hati. Senyumnya membikin aku lupa bahwa aku sedang berada di benua yang jauh dari rumah. Deretan gigi rapihnya menyapa ramah.
Satu jam berlalu, aku beride agar kami menukar koin-koin yang bergemerincing di saku kami dengan bir dingin seadanya dari mesin penjual otomatis di lantai dua yang entah kenapa ngambek setiap kali berhadapan denganku. Dua botol dan aku mulai melantur, dia tertawa meledekku yang belum apa-apa sudah mabuk. Si rambut emas masih bersemangat cerita soal kapitalisme, Amerikanisme, dan kebenciannya terhadap fast-junk-food chain. Idealisme masa muda yang masih meluap-luap meruap dari tubuhnya. Mau tak mau aku juga terbawa untuk memaklumi kepolosannya. Saat itu aku paham bahwa tak mungkin usianya lebih tua dariku. Buku yang sedang dia baca menjadi inspirasinya untuk cerewet malam itu.
Kami bergantian menyetel lagu-lagu favorit kami di laptopnya. Kami sama-sama memuja lirik lagu-lagu Bob Dylan yang seakan sebuah cerita pendek atau puisi dan suara Nina Simone yang membuatmu sedang jatuh cinta sekaligus merasa bersalah bersamaan. Dia juga memperdengarkanku salah satu lagu dari The Beatles yang berjudul sama dengan namanya. Kami pun larut dalam senandung lagu-lagu terpilih malam itu. Entah karena mulai mabuk atau hanya basa-basi, dia bilang suaraku cocok untuk lagu-lagu blues. Tiba-tiba aku merasa (berselera) tua. Tak pelak, bahagia juga.
Rasanya belum afdol apabila pembicaraan dua orang tak dikenal belum menyerempet persoalan Tuhan. Dia tidak mengikuti agama, tetapi dia masih berdoa. Katanya, dosa adalah perasaan bersalah dalam diri dan surga adalah hati nuraninya. Aku langsung daftar menjadi pengikutnya, pengikut pertamanya. Dia cukup menyenangkan untuk menjadi tuhan. Dia pun tertawa. Tidak pernah aku menyangka tuhan punya tawa serenyah dan sepolos itu. Aku balas menceritakan pengalaman beragamaku yang tidak menarik. Spiritualitas, lebih membosankan lagi.
Kami pun kembali ke topik yang dibahas dalam bukunya. Dengan bahasa Inggris yang terburu-buru dia mengajukan topik diskusi dan mendebat responku. Dia merasa akan lebih baik dalam mematahkan pendapatku jika dia les bahasa Inggris lagi. Tampaknya dia cukup minder dengan kemampuanku dalam merangkat kalimat bahasa Inggris malam itu. Yah, aku harus berterima kasih sedalam-dalamnya kepada dua kaleng bir dingin seharga satu Euro yang kami libas habis. Aku pun lancar bercas cis cus. Andai aku bicara bahasanya atau sebaliknya, mungkin kami tidak akan tidur malam itu. Perang kata-kata sembari mendengarkan Nina Simone menghamba? Satu dari sejuta.
Membahas soal buku, aku lantas tidak mau kalah. Aku pamerkan buku yang kubawa dari rumah, "The Joke", novel pertama Milan Kundera. Pertemuan kami yang berlanjut menjadi berjam-jam dialog dengan asap dan buih-buih alkohol tergambar dengan sempurna dalam kutipan dari novel tersebut, "Nothing brings people together more quickly (though often spuriously and deceitfully) than shared melancholy...".
Malam itu dia bercerita bahwa di tengah-tengah perjalanannya menyusuri negara panas ini, berita duka hadir. Neneknya meninggal dunia. Dia pun harus kembali ke negaranya untuk menghadiri pemakaman. Dia menyesal tidak menemani neneknya sampai napas terakhir, merasa bersalah jarang menengok ketika neneknya sakit. Saat prosesi pemakaman berlangsung, dia mulai berdoa. Dia mengilustrasikan dengan menengadahkan kepalanya ke arah langit dan mulai mengakui rasa bersalahnya. Aku menghiburnya dengan cara konyol, "Nenekmu bahagia dan akan masih mendengarkanmu bercerita kepadanya..". Dia tidak percaya tetapi tak ayal tersenyum juga, menggantikan sejenak sendu yang mampir barusan.
Malam itu juga penuh melankolia bagiku karena ini kali pertama aku berada di sebuah kota yang jauh dari rumah tanpa ada orang yang mengenalku. Kali pertama aku menyaksikan tari flamenco di sebuah taberna, impianku sejak lama. Menginjak Andalusia, hari pertama menjejakkan eksistensiku di Cordoba. Kenorakan pertamaku pula terpesona dengan sesosok makhluk berkulit pucat kemerahan dengan rambut keemasan. Aku seakan begitu tersihir dengan kilauannya. Selama ini aku merasa pucat dan emas adalah paduan yang membosankan. Kualatlah aku.
Sudah empat jam kami bersama berbagi melankolia, saatnya istirahat.
Ia berencana lari esok pagi. Ia lari setiap pagi.
Esok paginya, aku bangun terlambat. Aku pun bergegas menuju mezquita yang hanya sepuluh menit berjalan dari penginapan. Panasnya selatan negara ini memang mencengangkan. Rasanya air yang kuminum hanya lewat selintas dan keluar sebagai keringat. Kelelahan aku mengganti tiket bisku menuju Sevilla. Cordoba satu hari lagi. Ada dua alasan yang membuatku memperpanjang nostalgiaku di kota ini. Satu, aku masih ingin berkunjung ke Medina Azahara dan sore itu aku bagaikan cacing kepanasan tidak sanggup untuk pergi ke sana. Kedua, alasan yang cukup memalukan, karena Cordoba semakin menyenangkan berkat kehadiran si rambut emas.
Semalam aku bilang padanya bahwa aku hanya sehari di Cordoba. Sepulang menyusuri kota tua, aku kembali ke teras atas. Ditemani berbatang-batang rokok, iPod dan angin yang mulai bersuara. Aku melamun sendiri, menikmati musik. Tiba-tiba si rambut emas datang menghampiri dengan raut muka terkejut menemukanku masih berada di kota yang sama.
Kami kembali bercengkerama, tanpa mengajak yang lain. Matahari yang garang memaksa kami untuk pergi siesta. Kebiasaan yang awalnya aku benci kini menjadi penolong mood sehari-hari.
Ketika terbangun, aku segera mandi dan turun ke bawah untuk makan sore. Aku memesan ayam panggang dengan kentang goreng (aku rasa patatas fritas adalah masakan nasional Spanyol) plus segelas bir dingin. Baru dua suap, si rambut emas memasuki ruangan restoran. Dia minta izin untuk duduk bersamaku. Kami bertukar pengalaman siesta tadi. Aku lupa bilang, gelang-gelang yang ia pakai, semacam gelang anak-anak pecinta alam, menjadi distraksi yang menyenangkan. Terkadang aku harus membagi konsentrasiku antara mata atau pergelangan tangannya.
Tanpa pikir panjang, dia memesan menu yang sama denganku. Kami makan diiringi tayangan serial televisi Hollywood yang ia benci. Ironi terkocak, melihatnya mengutuk tayangan tersebut sembari mengunyah kentang, tetapi pandangan matanya lengket ke layar televisi. Aku menggodanya, "Katanya kamu tidak suka.. Tapi kenapa serius sekali menontonnya?". Dia ternyata sudah siap dengan jawaban andalannya, "Kamu harus mengenal apa yang kamu benci.. Kamu tidak bisa membenci hal-hal yang tidak kamu tahu kenapa kamu membencinya..". Aku tergelak. Memaklumi saja. Liburan tidak perlu terlalu dijejali dengan perdebatan.
Selesai makan, berjalan-jalan sore lah kami sejenak sembari mengepulkan asap lagi. Dia tidak enak badan akibat bergadang semalam bersamaku. Aku kasihan sekaligus mendadak kesepian. Aku pun membantunya membeli obat di apotik dengan bahasa Spanyolku yang seadanya. Selepas itu, dia pamit membaca buku dan tidur. Aku, dengan setitik rasa kehilangan, meneruskan jalan-jalanku.
Perpisahan kami selalu diakhiri dengan "It was nice meeting you..". Tanpa ada pertanyaan lanjutan "Siapa nama lengkapmu?", "Apa alamat e-mailmu?", "Boleh aku foto denganmu?". Selain gengsi dan takut ia terganggu, aku juga berniat untuk menjadikan dia hanya fragmen, sepenggal nostalgia akan Cordoba. Memori magis yang sebetulnya adalah sebuah ilusi, fata morgana.
Seminggu kemudian, aku bertolak ke kampung halamanku.
Ternyata, sesampainya di rumah, rindu itu menghebat. Tidak akan pernah ada dia lagi nantinya. Tidak mungkin bertemu lagi. Saking berombak dan putus asanya, aku merasa rinduku seperti kerinduan Minke pada Annelies. Yang tak pernah sampai, yang menghilang ditepis takdir. Rindu yang kelelahan coba menyeberangi samudera. Rindu yang ditolak mentah-mentah oleh batas kasta, lain benua.
Lama kelamaan aku sadar aku bukan menyukainya, aku justru hanya menyukai memori yang muncul bersamaan dengan sosoknya. Harusnya dibiarkan saja rasa itu tinggal di dalam fiksi, diendapkan di sana sampai mekar sendiri. Lebih baik dia hidup dalam imajinasi. Tidak ada saling harap, saling rindu, saling terluka. Tidak perlu bicara. Nyata itu tidak selalu berakhir bahagia. Nyata itu tidak selalu lebih indah.
Teman-temanku mengoleksi perangko dan kipas. Sedangkan, aku pembosan yang lekas jenuh dengan apa yang aku coba kumpulkan. Hobi yang bertahan hingga kini hanyalah mengoleksi bertoples-toples memori melankolis.
Kemarin, salah satu lagu yang dia putar di penginapan menyeruak di iPodku, ternyata dia menyelinap di antara playlist acak hari itu. Sedetik saja tadi aku kembali di Cordoba untuk kedua kalinya. Bersua panas yang menyapu jalanan hingga lengang dan berpapasan dengan terik yang memaksa orang-orang untuk berbisik dan berhenti berisik. Kembali duduk di teras atas penginapan menunggu senyumnya terkembang ketika melihatku melamun sendiri sembari mengepulkan asap.
Suatu saat, aku akan kembali ke sana. Menjemput memori dan nostalgia yang masih tertinggal. Cukup untuk reuni sendiri, bercengkerama dengan nostalgia.
Namun, aku dan dia, telah berjarak jutaan jejak remah roti dan nasi. Jejak yang mungkin sekarang sudah hilang dipatuki paloma-paloma kelaparan..
Selamat tinggal, si rambut emas. Farewell, golden hair. Vaarwel, gouden haren. Adios, cabello dorado.
*Ini hanya fiksi. Fiksi ada karena inspirasi. Seberapa nyata inspirasi, itu misteri. Selamat menikmati..