Sunday, November 20, 2011

rambut emas.


Rambut emasnya terkibas. Mengalunlah tangisan gitar Andalucia. Sepatah dua patah kata asing sontak perdana mampir di telinga. Namun, tawanya sungguh akrab. "Apa aku pernah mengenalmu?". "Mungkin.". Dia berkata begitu hanya untuk menghiburku yang terlalu berharap akan dramatisasi dari pertemuan kami. "Ya, mungkin.", bisikku. 

Dia datang dari Barat dan aku dari Timur. Bertemu kami di titik tengah bumi. Setidaknya, kami berkhayal begitu. "Aku mendengarmu bercerita soal Madrid dalam bahasa Inggris, tadi.", terangnya. "Ya, kapan-kapan mungkin aku akan bercerita dalam bahasa Indonesia agar kamu tidak bisa menguping.", kelakarku.

Dia membawa-bawa sebuah buku, aku tersenyum melihat judulnya. Dia terkesima aku pintar baca. Sedikit tersinggung, aku mengungkit sejarah kelam yang menjembatani kampung halaman kami. Dia meminta maaf dengan nada lucu. Aku jadi tidak enak sendiri. Kemudian, kami larut dalam pertukaran kata dalam bahasa yang bukan bahasa ibu kami berdua.

Kami menunggu angin menutup kelopak. Mata kami tidak ingin mengerjap. Malam itu, angin memilih bungkam. Teras penginapan kami sepi dari hembusannya. Hanya ada suara kami yang lamat-lamat dan kepulan asap-asap kecil dari rokok yang sedari tadi tak henti-henti tersulut. 

Sesekali kami menengok kehidupan di bawah. Kosong. Ada sesuatu dari kota ini yang membuat orang-orang memilih untuk diam, merenung, meringkuk di kamar sembari mengipas-ngipas. Musim panas kali ini cukup membuat mereka kewalahan. Meski kesenangan membikin kulit mereka legam berkilauan. Aku? Pasrah menghitam dan kepanasan selama masih bisa menyusuri lorong-lorong sempit nan cantik di kota tua Cordoba. Ya, walaupun sempat juga rindu hujan. 

Lepas bernostalgia akan basahnya rumput dan lembabnya udara di Indonesia, kutengok dia diam-diam, rambut emasnya semakin berkilat di temaram malam. "Inikah perasaan bangsaku berabad, berdekade lalu? Takjub sekaligus takut?",  gumamku dalam hati. Senyumnya membikin aku lupa bahwa aku sedang berada di benua yang jauh dari rumah. Deretan gigi rapihnya menyapa ramah.

Satu jam berlalu, aku beride agar kami menukar koin-koin yang bergemerincing di saku kami dengan bir dingin seadanya dari mesin penjual otomatis di lantai dua yang entah kenapa ngambek setiap kali berhadapan denganku. Dua botol dan aku mulai melantur, dia tertawa meledekku yang belum apa-apa sudah mabuk. Si rambut emas masih bersemangat cerita soal kapitalisme, Amerikanisme, dan kebenciannya terhadap fast-junk-food chain. Idealisme masa muda yang masih meluap-luap meruap dari tubuhnya. Mau tak mau aku juga terbawa untuk memaklumi kepolosannya. Saat itu aku paham bahwa tak mungkin usianya lebih tua dariku. Buku yang sedang dia baca menjadi inspirasinya untuk cerewet malam itu. 

Kami bergantian menyetel lagu-lagu favorit kami di laptopnya. Kami sama-sama memuja lirik lagu-lagu Bob Dylan yang seakan sebuah cerita pendek atau puisi dan suara Nina Simone yang membuatmu sedang jatuh cinta sekaligus merasa bersalah bersamaan. Dia juga memperdengarkanku salah satu lagu dari The Beatles yang berjudul sama dengan namanya. Kami pun larut dalam senandung lagu-lagu terpilih malam itu. Entah karena mulai mabuk atau hanya basa-basi, dia bilang suaraku cocok untuk lagu-lagu blues. Tiba-tiba aku merasa (berselera) tua. Tak pelak, bahagia juga.

Rasanya belum afdol apabila pembicaraan dua orang tak dikenal belum menyerempet persoalan Tuhan. Dia tidak mengikuti agama, tetapi dia masih berdoa. Katanya, dosa adalah perasaan bersalah dalam diri dan surga adalah hati nuraninya. Aku langsung daftar menjadi pengikutnya, pengikut pertamanya. Dia cukup menyenangkan untuk menjadi tuhan. Dia pun tertawa. Tidak pernah aku menyangka tuhan punya tawa serenyah dan sepolos itu. Aku balas menceritakan pengalaman beragamaku yang tidak menarik. Spiritualitas, lebih membosankan lagi. 

Kami pun kembali ke topik yang dibahas dalam bukunya. Dengan bahasa Inggris yang terburu-buru dia mengajukan topik diskusi dan mendebat responku. Dia merasa akan lebih baik dalam mematahkan pendapatku jika dia les bahasa Inggris lagi. Tampaknya dia cukup minder dengan kemampuanku dalam merangkat kalimat bahasa Inggris malam itu. Yah, aku harus berterima kasih sedalam-dalamnya kepada dua kaleng bir dingin seharga satu Euro yang kami libas habis. Aku pun lancar bercas cis cus. Andai aku bicara bahasanya atau sebaliknya, mungkin kami tidak akan tidur malam itu. Perang kata-kata sembari mendengarkan Nina Simone menghamba? Satu dari sejuta.

Membahas soal buku, aku lantas tidak mau kalah. Aku pamerkan buku yang kubawa dari rumah, "The Joke", novel pertama Milan Kundera. Pertemuan kami yang berlanjut menjadi berjam-jam dialog dengan asap dan buih-buih alkohol tergambar dengan sempurna dalam kutipan dari novel tersebut, "Nothing brings people together more quickly (though often spuriously and deceitfully) than shared melancholy...". 

Malam itu dia bercerita bahwa di tengah-tengah perjalanannya menyusuri negara panas ini, berita duka hadir. Neneknya meninggal dunia. Dia pun harus kembali ke negaranya untuk menghadiri pemakaman. Dia menyesal tidak menemani neneknya sampai napas terakhir, merasa bersalah jarang menengok ketika neneknya sakit. Saat prosesi pemakaman berlangsung, dia mulai berdoa. Dia mengilustrasikan dengan menengadahkan kepalanya ke arah langit dan mulai mengakui rasa bersalahnya. Aku menghiburnya dengan cara konyol, "Nenekmu bahagia dan akan masih mendengarkanmu bercerita kepadanya..". Dia tidak percaya tetapi tak ayal tersenyum juga, menggantikan sejenak sendu yang mampir barusan. 

Malam itu juga penuh melankolia bagiku karena ini kali pertama aku berada di sebuah kota yang jauh dari rumah tanpa ada orang yang mengenalku. Kali pertama aku menyaksikan tari flamenco di sebuah taberna, impianku sejak lama. Menginjak Andalusia, hari pertama menjejakkan eksistensiku di Cordoba. Kenorakan pertamaku pula terpesona dengan sesosok makhluk berkulit pucat kemerahan dengan rambut keemasan. Aku seakan begitu tersihir dengan kilauannya. Selama ini aku merasa pucat dan emas adalah paduan yang membosankan. Kualatlah aku. 

Sudah empat jam kami bersama berbagi melankolia, saatnya istirahat.

Ia berencana lari esok pagi. Ia lari setiap pagi. 

Esok paginya, aku bangun terlambat. Aku pun bergegas menuju mezquita yang hanya sepuluh menit berjalan dari penginapan. Panasnya selatan negara ini memang mencengangkan. Rasanya air yang kuminum hanya lewat selintas dan keluar sebagai keringat. Kelelahan aku mengganti tiket bisku menuju Sevilla. Cordoba satu hari lagi. Ada dua alasan yang membuatku memperpanjang nostalgiaku di kota ini. Satu, aku masih ingin berkunjung ke Medina Azahara dan sore itu aku bagaikan cacing kepanasan tidak sanggup untuk pergi ke sana. Kedua, alasan yang cukup memalukan, karena Cordoba semakin menyenangkan berkat kehadiran si rambut emas. 

Semalam aku bilang padanya bahwa aku hanya sehari di Cordoba. Sepulang menyusuri kota tua, aku kembali ke teras atas. Ditemani berbatang-batang rokok, iPod dan angin yang mulai bersuara. Aku melamun sendiri, menikmati musik. Tiba-tiba si rambut emas datang menghampiri dengan raut muka terkejut menemukanku masih berada di kota yang sama. 

Kami kembali bercengkerama, tanpa mengajak yang lain. Matahari yang garang memaksa kami untuk pergi siesta. Kebiasaan yang awalnya aku benci kini menjadi penolong mood sehari-hari. 

Ketika terbangun, aku segera mandi dan turun ke bawah untuk makan sore. Aku memesan ayam panggang dengan kentang goreng (aku rasa patatas fritas adalah masakan nasional Spanyol) plus segelas bir dingin. Baru dua suap, si rambut emas memasuki ruangan restoran. Dia minta izin untuk duduk bersamaku. Kami bertukar pengalaman siesta tadi. Aku lupa bilang, gelang-gelang yang ia pakai, semacam gelang anak-anak pecinta alam, menjadi distraksi yang menyenangkan. Terkadang aku harus membagi konsentrasiku antara mata atau pergelangan tangannya. 

Tanpa pikir panjang, dia memesan menu yang sama denganku. Kami makan diiringi tayangan serial televisi Hollywood yang ia benci. Ironi terkocak, melihatnya mengutuk tayangan tersebut sembari mengunyah kentang, tetapi pandangan matanya lengket ke layar televisi. Aku menggodanya, "Katanya kamu tidak suka.. Tapi kenapa serius sekali menontonnya?". Dia ternyata sudah siap dengan jawaban andalannya, "Kamu harus mengenal apa yang kamu benci.. Kamu tidak bisa membenci hal-hal yang tidak kamu tahu kenapa kamu membencinya..". Aku tergelak. Memaklumi saja. Liburan tidak perlu terlalu dijejali dengan perdebatan. 

Selesai makan, berjalan-jalan sore lah kami sejenak sembari mengepulkan asap lagi. Dia tidak enak badan akibat bergadang semalam bersamaku. Aku kasihan sekaligus mendadak kesepian. Aku pun membantunya membeli obat di apotik dengan bahasa Spanyolku yang seadanya. Selepas itu, dia pamit membaca buku dan tidur. Aku, dengan setitik rasa kehilangan, meneruskan jalan-jalanku. 

Perpisahan kami selalu diakhiri dengan "It was nice meeting you..". Tanpa ada pertanyaan lanjutan "Siapa nama lengkapmu?", "Apa alamat e-mailmu?", "Boleh aku foto denganmu?". Selain gengsi dan takut ia terganggu, aku juga berniat untuk menjadikan dia hanya fragmen, sepenggal nostalgia akan Cordoba. Memori magis yang sebetulnya adalah sebuah ilusi, fata morgana.

Seminggu kemudian, aku bertolak ke kampung halamanku.

Ternyata, sesampainya di rumah, rindu itu menghebat. Tidak akan pernah ada dia lagi nantinya. Tidak mungkin bertemu lagi. Saking berombak dan putus asanya, aku merasa rinduku seperti kerinduan Minke pada Annelies. Yang tak pernah sampai, yang menghilang ditepis takdir. Rindu yang kelelahan coba menyeberangi samudera. Rindu yang ditolak mentah-mentah oleh batas kasta, lain benua.

Lama kelamaan aku sadar aku bukan menyukainya, aku justru hanya menyukai memori yang muncul bersamaan dengan sosoknya. Harusnya dibiarkan saja rasa itu tinggal di dalam fiksi, diendapkan di sana sampai mekar sendiri. Lebih baik dia hidup dalam imajinasi. Tidak ada saling harap, saling rindu, saling terluka. Tidak perlu bicara. Nyata itu tidak selalu berakhir bahagia. Nyata itu tidak selalu lebih indah.

Teman-temanku mengoleksi perangko dan kipas. Sedangkan, aku pembosan yang lekas jenuh dengan apa yang aku coba kumpulkan. Hobi yang bertahan hingga kini hanyalah mengoleksi bertoples-toples memori melankolis. 

Kemarin, salah satu lagu yang dia putar di penginapan menyeruak di iPodku, ternyata dia menyelinap di antara playlist acak hari itu. Sedetik saja tadi aku kembali di Cordoba untuk kedua kalinya. Bersua panas yang menyapu jalanan hingga lengang dan berpapasan dengan terik yang memaksa orang-orang untuk berbisik dan berhenti berisik. Kembali duduk di teras atas penginapan menunggu senyumnya terkembang ketika melihatku melamun sendiri sembari mengepulkan asap.

Suatu saat, aku akan kembali ke sana. Menjemput memori dan nostalgia yang masih tertinggal. Cukup untuk reuni sendiri, bercengkerama dengan nostalgia. 

Namun, aku dan dia, telah berjarak jutaan jejak remah roti dan nasi. Jejak yang mungkin sekarang sudah hilang dipatuki paloma-paloma kelaparan.. 

Selamat tinggal, si rambut emas. Farewell, golden hair. Vaarwel, gouden haren. Adios, cabello dorado.



*Ini hanya fiksi. Fiksi ada karena inspirasi. Seberapa nyata inspirasi, itu misteri. Selamat menikmati..

Saturday, November 5, 2011

sihir.

aku punya sihir.
mantranya rahasia.

rapalannya aku hapalkan.
hapalannya aku rapalkan.
tiap malam, tiap pagi, tiap aku mandi.

sembari bersenandung, aku menyelipkan si mantra.
ketika mengaduk sup di kuali, aku bubuhkan si butir sihir.

siapa yang ingin kusihir?

pangeran, seorang pangeran dari negeri seberang.
tampan bukan kepalang.
jelas takdirnya bukan dengan penyihir.
karena baik dan bersih tidak bermain dengan jahat dan kotor.

puteri negeri ini, cantik dan berhati suci
beda dengan mukaku yang berhias dosa.

mereka adalah potret adam dan hawa.

aku hanya ular yang melilit iri di pohon apel

aku iri.

maka aku kirim sihir untuk sang pangeran
aku membuatnya buruk rupa.

tapi, aku lupa.
lupa membuatnya hatinya buruk rupa.
lupa membuat si puteri lupa.

mereka tetap bersama.

dan aku kini bergelar penyihir terbodoh di dunia.


ternyata,
sihir terkuat di dunia adalah: lupa.

Wednesday, October 19, 2011

cerita malam.

siang menyapa malam
katanya, ia bosan menjadi terang
malam pun mendengus
gelap tidak punya teman, balasnya.

bagaimana dengan bintang-bintang?

ah, mereka tidak setia.
buktinya hobi mengerlipkan mata dengan genitnya

dan tersihirlah manusia di bawah sana

siang pamit pulang
bersyukur ia benderang

malam kembali diam
bersama tumpukan lelah ia menyelam...

kelakar saja.

dia senang berkelakar soal cinta
tak ada yang tertawa mendengarnya
malah tawanya sendiri yang membelit seperti belukar

sebenar-benarnya dia bukan berkisah tentang canda
dia hanya memupur lara dan rana dengan kerling senja
penawar sengsara

punggungnya berlawanan dengan bahagia
bersender pada derita

ah, cinta..


tak habis kau membuat anak Adam bercerita...

Wednesday, October 5, 2011

jealousy is a beauty.

she's jealous of the city. the city can bump his elbows, stroke his red hair, and feel his feet walking, touching pavement. she cannot do all those things. she's angry with the tall city buildings, they can reflect his face, cast a shadow upon his golden body, and commanding his jaw to tighten or ask him politely, silently to narrow his eyes to see the top of those arrogant and proud greatest forms of art. and all she can do is wait, impatiently trying to change the pace of her life, a real nuisance. she has been defiled by him, once. now, she's eager for more. she's so close to blowing the city with one giant dynamite in her hand, burning its trees and the birds with borrowed torches, and flooding the buildings so the inhabitants will jump out of the windows like driftwoods falling down by the waterfall. yeah, she's crazy in hatred. not in love. she wants to conquer him, defeat him, pulling the white flag out of his guts. and in the end, she's winning. raising her hands high, touching the air of the city and shout out loud :


"i make the city, the city doesn't make me. and i break you. you, never break me."







061008

on a train.


This morning, on a train back to Jakarta, someone woke me up hastily.. he asked me to help him liberate a woman who’s being possessed by evil. She sat two seats in front of me. “why I?”, I was wondering inwardly. Apparently, all passengers from the same coach as mine assumed that I was a priest. A priest that can get rid of all evil spells. They said, while I was sleeping I constantly mumbled some mantras. Bewildered, I asked again, “what mantra??”. Mantras in unfamiliar language, they answered. “Oh, really?”, I was still confused. “yes, Sir, you kept mumbling one strange line in your sleep”. I guess they clearly misunderstood, I have this old bad habit, talking in sleep, never know to whom. And the ‘mantras’ that they heard was a quote from one poem, it says “love is unhappy when love is away”. It seemed that I had fallen asleep while reading an old book of poems, Chamber Music. I almost bursted laughing, but, looking at their doubtless and hopeful facial expression assuming I was this great priest, I just went silenced. The woman being ‘possessed’ screaming hysterically, calling upon one name “Ezekiel!”, “Ezekiel!”. E-z-e-k-i-e-l ? Who? A lover? A prophet? Or an Angel? Who?
So, I came up to her and whispered to her sweet-smelling ears my ‘mantra’, “miss, love is unhappy when love is away..” three times is charm. I was not sure she could hear me. Suddenly, out of the blue, she stopped screaming and started to cry silently, the tears were color crimson red, but it wasn’t blood. Those were tears. “darn! It’s getting worse”, I jumped in panic. Then, she abruptly grabbed my hands and said to me “Thank you, you really understand what I’ve been feeling, Sir..”. I made a bittersweet smile, not knowing to feel flattered or fully ashamed of my stunt and better to jump out of the train window, while we were still surrounded by paddy fields. I replied by nonsensical words “there’s no wrong in helping other people, even though what I do can still be queried as a good thing or else”. My stop is the next station. The woman had stopped crying, her cheeks rosy pink from the trace of tears running down her face before. The passengers applauded me. I, excused myself to sleep (or pretended to do so) and promised myself secretly that I would never read that poetry book ever again.
**

Winds of May, that dance on the sea,
Dancing a ring-around in glee
From furrow to furrow while overhead
The foam flies up to be garlanded
In silvery arches spanning the air,
Saw you my true love anywhere?
    Welladay, welladay!
    For the winds of May!
Love is unhappy when love is away
James Joyce


200309

surat pendek kepada engkau.


Aji, engkau meminta hukum ditegakkan.
"bunuhlah laki-laki yang bersama laki-laki dan musnahkan perempuan yang bersama dengan perempuan, rajam sesamamu yang berbuat zina."
oh, Aji tercinta,
akan tiba saatnya engkau harus menjadi Ibrahim kepada Ismail.
membunuh anakmu sendiri demi Tuhanmu (yang bisa jadi, bukan Tuhanku juga)
namun bedanya, Ismail dibunuh karena kesuciannya, sedangkan aku?
justru karna kekotoranku.
tidak akan ada domba sial lain yang sudi menggantikanku.
mungkin, lebih baik engkau mulai mengumpulkan batu dan kerikil satu persatu dari sekarang.

salam penuh kasih,
Luh.


070709

Lost n Found.

she walked and skipped, her world was still set against the backdrop of a calm salty afternoon with shy sunlight and colorful houses along the shore. she breezed and bruised easily, she often let herself lost deliberately. she had never wanted to be found, but that day she hoped that someone would find her and take her home. she took photographs using her polaroid camera of almost everything came across her wandering eyes. click, a cat yawning. clack, candy wrappers on the dock that seemingly had been stepped on too many times. she didn't bring with her any books nor ipod to distract her from the outside world, she felt that her mind was already overcrowded with all the poems, quotes and the lyrics. she needed a touch of reality because she'd been away for too long from people with their smiles not just emoticons, their ringing laughter not just 'hahaha' written before her eyes. never she had felt so alone until that very afternoon. she had decided to go to that place because she liked looking at bright colors painted on each one of the houses stood near the pier. the chipped paint made it historical, she thought. being there felt like going back to a century ago although in her mind, everything would look black and white. many strangers, the village fellows she supposed, were greeting her. she tried so hard not to appear lost and clueless though in her heart, she needed a compass and a map so badly it hurt. the sea breeze played with her long brownish hair. the memories of her past love played with her fingers she started to write his name in the sand. then she walked away, knowing that sooner or later the sea would erase it and swallow the sorrow. the night fell, she went to a bar where she heard a loud cheering music from inside. she wanted to be a part of the joyous habit the village had to offer. at least, she could drown so deep in the happiness of others instead in her own imagination. it was midnight, she was still alone, still lost. nobody would take her home. the train would depart in the morning. she got 5 hours to sleep and only one chance to take the last picture on her polaroid. her hands gripped on her flowery skirt. she held her tears back. she bit her lips that smelled like cherry. it was sweet. but kisses had always been sweeter, she'd recall. she shrugged as if surrendering to the fact that she was alone and made peace with it. she took out her camera out of the pocket. brushed her hair with her fingers, tidied up her messy bangs, corrected her awkward smile. she took a photograph of herself then left the picture on the table. symbolic way to leave her memories behind. she paid the drinks and left the bar. she almost bumped into a guy on the way out. she was too busy with her newfound feeling she didn't notice the smile on the guy's face. he chose to sit at the table which she had occupied before. he saw the deserted picture on the table. he lifted it and studied her smile for a while. he realized it was the girl he saw when he entered the bar. unhesitatingly, still holding the polaroid, he stormed out of the bar to chase her. 

would she be found? or would she still be lost? did she still feel the need of being found?


"But can't you see i'm lovesick?
I need a cure so bring it real quick
This time i'm fearing heartbreak
Look at the time it's almost daybreak
Oh i don't want to settle down
I don't want to leave this town
I'm feeling lost and found
Am i wild, wild, wild, wild, wild?"- Taken By Trees.


101110

Marionet



Di panggung mini berlatar pepohonan kala malam hari, Marionet melompat lincah kesana kemari, menarikan ballet yang mirip danau angsa. Pasangannya, sesosok pangeran buatan bertubuh gempal dengan rambut palsu putih mengilat yang malah menyerupai uban terlalu sering diminyaki. Mereka menari berdua, diharuskan saling berkasih dalam cerita sampai pagi. Takdirnya bukan dipilihnya, sejak tercipta ia terikat suratan yang dijalin ke dalam seutas tali masing-masing untuk kedua kaki dan tangannya. Marionet wajib takluk pada si pangeran sesuai titah sang dalang. Namun, perasaan terkadang membelot dari segala aturan dan norma. Ia kadung jatuh cinta pada sang dalang dari awal ia diciptakan, tanpa pernah tahu ia akan dimatikan di akhir cerita. Pangeran menepis pundi kecil isi racun dari tepi bibir Marionet. Terlambat, cairan laknat itu telah memulai petualangannya dalam tubuh ringkih Marionet, membakari isinya. Hatinya pun ikut hangus. Pangeran menangis geram sembari mengutuki sang dalang, berharap mereka berganti tempat agar bisa membalaskan dendam. Marionet hanya tersenyum terbujur kaku. Rela diambil nyawanya demi riuhnya tepukan tangan yang diperuntukkan bagi lelaki yang ia cintai.


Toh ia akan hidup lagi saat panggung mini kembali digelar. 




*Oh iya, nama Marionet itu "Weronika", tapi dia akan menengok juga semisal dipanggil "Véronique". Foto dari sini. (Tuan Kieślowski, terima kasih).



190510