setiap saya sedih, saya selalu mengunjungi rumahnya. di sana ada banyak buku, puisi dan prosa. ada juga lagu-lagu. yang terkadang ceria, tetapi lebih sering bernada sedih menusuk-nusuk hati. di sana, saya merasa tidak sendiri. setiap kali membuka bab baru dari buku-buku di perpustakaan mungil dan sederhananya, saya merasa sedih saya ada temannya. sedih yang sepertinya punya kesamaan. sedih yang baru saya momong beberapa bulan ini dan sedih yang sudah bertahun-tahun ini menempel di hatinya. piringan hitam yang ia pasang memang sudah usang, tapi bukan berarti musiknya tidak jelas terdengar sampai ke dalam mimpi. lagu-lagu yang ia pilih selalu membuat saya menangis. entah itu haru atau putus asa. puisinya.. puisinya indah sekali. dan, sedih sekali. saya tidak pernah akan bisa menandingi kumpulan puisinya, dalam hal sedih, tentu saja. buku-bukunya, cerita-ceritanya, temanya jarang berakhir bahagia. dan diam-diam saya bersyukur, saya punya teman. tetapi, alangkah menyenangkannya, apabila sedih yang sebabnya sama dalam diri kami, lekas selesai. saya tidak keberatan membaca koleksi baru yang lebih ceria. saya tidak keberatan, sepahit-pahitnya, sedih saya ditinggal sendirian. andai saya bisa berterima kasih pada si pemilik rumah perpustakaan. berterima kasih sudah berbagi kesedihan. :)