aku merajut selimut dari reruntuhan rambut
yang melepaskan diri satu persatu dari kulit kepalamu yang mulai keriput
nafasmu sudah habis entah sejak kapan, tapi senyummu masih bertahan
atau itu hanya khayalan?
matamu tertutup sudah semenjak entah berapa purnama, entah berapa gerhana..
kamu masih menjawab setiap aku tak sengaja membisik namamu
atau itu hanya tipuan picisan gendang telingaku?
aku merajut sepi dari sisa-sisa memori
mengepang duka dan lara dari debu-debu tubuhmu yang mengabu..
setiap malam kamu meninggalkan pesan yang sama di sudut kamar..
"jangan lupakan"
aku tidak hanya melupakan, sayang.. aku tidak pernah meninggalkan.
No comments:
Post a Comment